Langsung ke konten utama

Postingan

WAK-TU-A

Naskah Lakon “ WAK-TU-A ” Oleh : Muhamad Syarifudin Hidayatullah & Mahesa Admi CASTING : ·        Leona ·        Seseorang ·        PENULIS ·        TUKANG CAT ·        KAKEK PANGGUNG DISETTING SEPERTI DUNIA BAWAH SADAR LEONA YANG BERANTAKAN DAN KACAU BALAU. DALAM DUNIA BAWAH SADARNYA TERDAPAT KASUR YANG RUSAK DAN RERUNTUHAN BANGUNAN. LEONA TERBARING DI ATAS KASUR. LAMPU RUANGAN MENYALA TERANG. Leona ( merenung ) Waktu pertama yang aku miliki ketika aku masih berada dalam rahim ibuku. Kini, aku beranjak dewasa. Walau aku masih terbilang muda. Tangisan pertamaku aku keluarkan waktu aku baru saja keluar dari rahim ibuku. Kini, aku mulai belajar untuk tak menangis lagi. Aku sudah mulai belajar membohongi diriku sendiri. Waktu yang kumiliki tak akan pernah cukup untuk membunuh kesepian diriku. Banyak ...

Anjani Istri Tentara

Anjani  istri Tentara Karya : Gita Everdeen Konon katanya, di sebuah desa yang terletak di pelosok kota, terkenal akan gadis-gadisnya yang cantik dan lugu. Banyak diantara mereka yang diminati. Namun yang paling tersohor dan menjadi bunga desa disana adalah gadis ayu bernama Raden Ayu Anjani. Selain cantik, dia pun pintar dan cerdas. Dia putri salah satu bangsawan di desa tersebut. Tak sedikit laki-laki yang ingin menikahinya. Baik putra-putra bangsawan ataupun rakyat biasa. Namun untuk rakyat biasa, keinginan mereka harus lenyap karena gelar tersebut. Saat itu aturan yang berisi larangan seorang bangsawan bergaul atau menikah dengan rakyat biasa masih sangat ketat. Ayah : “banyak putra bangsawan ingin menikahimu di luar” Anjani : “aku tidak menginginkan satu pun  dari mereka untuk menjadi suamiku” Ayah :”mengapa? Apa kau sudah punya pilihan sendiri?” Anjani : “belum, masih ku cari” Ayah :” jangan sampai kau hancurkan reputasi keluarga ini karena pilihan y...

Rasa Aneh

Rasa Aneh Oleh: Syarifudin Emseh “Ah! Tertanamlah waktu yang tua ke dalam diriku. Apakah memang selama itu aku tidur?” tanya Mahesa kepada dirinya sendiri ketika bangun dari tidurnya. Jam dinding tidak berdetak lagi. Sementara, matahari dan bulan berdampingan di langit yang sama. Mahesa merasa keanehan tentang hal ini. Seingatnya, ada hujan bintang sebagai pengantar tidurnya. Oleh karena itu, mimpinya menjadi sangat indah. Terlampau indah. Lebih indah dari apa pun yang pernah ia lihat dalam hidup. Dan kini, ia hanya bisa menggerutu kepada orang yang membangunkannya, entah siapa pun itu. Tapi nyatanya tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri. “Peler kuda! Jam berapa sekarang? Ada tugas yang mesti dikumpulkan!” ia terkejut sendiri, dan kesadarannya berangsur pulih. Lalu ia mencari telepon genggamnya. Ternyata telepon genggamnya telah menjadi papan yang mulai rapuh dan jadi debu. Perasaan aneh macam apa ini, batinnya. Lalu ia bergegas berjalan keluar rumah. Ternyata, banyak h...