Langsung ke konten utama

Postingan

Rasa Aneh

Rasa Aneh Oleh: Syarifudin Emseh “Ah! Tertanamlah waktu yang tua ke dalam diriku. Apakah memang selama itu aku tidur?” tanya Mahesa kepada dirinya sendiri ketika bangun dari tidurnya. Jam dinding tidak berdetak lagi. Sementara, matahari dan bulan berdampingan di langit yang sama. Mahesa merasa keanehan tentang hal ini. Seingatnya, ada hujan bintang sebagai pengantar tidurnya. Oleh karena itu, mimpinya menjadi sangat indah. Terlampau indah. Lebih indah dari apa pun yang pernah ia lihat dalam hidup. Dan kini, ia hanya bisa menggerutu kepada orang yang membangunkannya, entah siapa pun itu. Tapi nyatanya tidak ada siapa-siapa selain dirinya sendiri. “Peler kuda! Jam berapa sekarang? Ada tugas yang mesti dikumpulkan!” ia terkejut sendiri, dan kesadarannya berangsur pulih. Lalu ia mencari telepon genggamnya. Ternyata telepon genggamnya telah menjadi papan yang mulai rapuh dan jadi debu. Perasaan aneh macam apa ini, batinnya. Lalu ia bergegas berjalan keluar rumah. Ternyata, banyak h...

Hahahihi

Hahahihi Oleh: Syarifudin Emseh Hahahihi. Setiap hari, ketika bangun tidur, Iqan harus selalu berkata demikian (seperti suara orang tertawa) supaya menghindari dari gangguan kejiwaan yang bisa menyebabkan kematian. Orang-orang di tempat tinggalnya pun rentan akan penyakit kejiwaan sebab dunia selalu memenuhi isi kepala mereka hingga overload . Menjadi beban. Sehingga mau tak mau mereka harus tertawa. Humor adalah makanan pokok di tempat tinggalnya, setelah perangkat-perangkat keras. Jika sampai kebutuhan itu tidak terpenuhi, maka ada saja kasus kematian konyol yang bakal tayang di televisi. Mulai dari mati karena makan sendok hingga mati karena terpeleset. Sebagian menganggap ironi, tapi di sisi lain ada juga yang menganggap kematian konyol adalah humor yang sangat segar. Tidak ada yang terlalu peduli dengan kematian, sebab orang-orang selalu mencari cara untuk tertawa. Dan di antara hal yang paling mulia ialah menjadi seorang komedian yang bisa menyelamatkan banyak orang ...

Melibatkanmu

MELIBATKANMU kuniatkan ini sebagai sajak pendek dan aku ingin berhenti bersendiri. maka ketika kutulis, selesai, aku ingin Kau menentukan bagian mana dari sajak ini yang mesti dipanjangkan, supaya tak berakhir percuma pada baris keenam. 2017 (Pasya Alfalaqi)

Larasati Mahaayu

Larasati Mahaayu   Oleh: Syarifudin Emseh             Minggu pagi yang cerah, di sudut sebuah desa, suara tambur meramaikan suasana. Larasati menari-nari gemulai diiringi para warga yang juga ikutan menari. Mereka semua dalam suasana yang gembira. Namun, suasana itu pecah akibat Larasati berhenti menari, tetapi suara tambur masih berbunyi sangat meriah.             “Mengapa berhenti menari?” tanya salah satu warga.             “Aku mau ke supermarket. Ingin membeli kosmetik,” jawab Larasati.             “Kau harus serius latihan, Larasati! Jangan seenaknya begitu!” seru pemain tambur.             Perkataan pemain tambur tak diindahkannya. Ia mengusap keringatnya sambil mengatur ritme pernafasannya...